Browsing "Older Posts"

Halo sahabat selamat datang di website jasalayanankesehatan.live, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Kenali Penyebab dan Gejala Kanker Prostat pada Usia Muda, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Kanker prostat merupakan jenis penyakit kanker yang sering terjadi pada pria, terutama pria lanjut usia (lansia) atau di atas usia 65 tahun. Meski demikian, kanker prostat juga bisa terjadi pada pria yang lebih muda atau di bawah 50 tahun. Lantas, apa penyebab dan gejala kanker prostat pada usia muda? Apakah ada cara mencegahnya?

Seberapa umum kanker prostat terjadi pada pria muda?

Kanker prostat memang erat kaitannya dengan penyakit lansia. Pasalnya, risiko penyakit ini semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia. Bahkan, American Cancer Society menyebutkan, enam dari sepuluh kasus kanker prostat ditemukan pada pria berusia di atas 65 tahun.

Namun, penyakit kanker prostat juga bisa terjadi pada pria yang lebih muda.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan di Journal of the Chinese Medical Association, satu persen dari total kasus kanker prostat merupakan pasien yang berusia lebih muda, yaitu di bawah 50 tahun. Adapun rata-rata dari pasien tersebut didiagnosis memiliki kanker prostat berjenis adenokarsinoma.

Bahkan, penelitian lain pada 2019 menunjukkan, jumlah penderita kanker prostat terus meningkat pada remaja dan dewasa muda di berbagai negara. Kasusnya tercatat meningkat secara stabil, sekitar dua persen per tahun, sejak 1990 di seluruh kelompok usia antara 15-40 tahun.

Meski demikian, kasus kanker prostat pada pria muda ini masih sangat jarang terjadi. Dari 100.000 pria di bawah usia 35 tahun, hanya 0,2 yang mengalami kanker prostat, sedangkan pada usia 70 tahun, rata-rata kasusnya bisa mencapai 800 dari 100.000 orang.

Meski jarang terjadi, kanker prostat di usia muda tetap perlu diwaspadai. Apalagi, beberapa kasus kanker prostat pada pria muda ditemukan dalam kondisi stadium kanker prostat lanjut.

Penyebab kanker prostat pada usia muda

Kanker prostat terjadi ketika adanya sel abnormal yang tumbuh dan tidak terkontrol di kelenjar prostat. Pertumbuhan sel abnormal ini umumnya disebabkan oleh mutasi genetik yang dapat diwariskan dari orangtua atau yang berkembang dengan sendirinya (bukan keturunan).

Meski demikian, penyebab kanker prostat pada usia muda belum diketahui secara pasti. Para peneliti menduga, kanker prostat bisa ditemukan pada pria muda karena tumor di dalamnya berkembang dengan cepat.

Sementara dugaan lainnya karena meningkatnya angka kesadaran para pria untuk melakukan skrining kanker prostat, seperti tes PSA, lebih dini. Namun, beberapa faktor lain juga disebut berperan dalam menumbuhkan sel kanker di kelenjar prostat. Faktor-faktor tersebut, yaitu:

1. Keturunan atau riwayat keluarga

Salah satu penyebab kanker prostat yang mungkin terjadi, yaitu mutasi genetik yang diturunkan dari keluarga. Pada pria muda yang mendapat diagnosis kanker prostat umumnya ditemukan mutasi genetik HOXB13, yang didapat dari orangtua.

Meski demikian, kasus mutasi genetik ini sangat jarang, sehingga kasus kanker prostat pada usia yang lebih muda pun jarang ditemukan.

2. Obesitas dan pola hidup yang tidak sehat

Kegemukan atau obesitas memang kerap menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Pada kanker prostat, obesitas disebut dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker prostat agresif atau stadium lanjut.

Pada anak muda, obesitas memang kerap terjadi. Hal ini umumnya terkait dengan gaya hidup yang buruk, seperti kurang gerak atau pola makan yang tidak sehat.

Selain yang disebutkan di atas, beberapa faktor lain pun disebut dapat menjadi penyebab kanker prostat pada usia muda, seperti infeksi HPV, atau paparan zat dari lingkungan.

Gejala-gejala kanker prostat pada usia muda

Pasien kanker prostat yang berusia lebih muda atau di bawah 50 tahun lebih jarang menunjukkan gejala awal. Namun, pada beberapa kasus, gejala kanker prostat mungkin dirasakan ringan dan semakin memburuk secara bertahap.

Beberapa gejala yang mungkin dirasakan, seperti nyeri pada perut bagian bawah, aliran urine yang melemah, atau sering buang air kecil pada malam hari (nokturia). Adapun gejala-gejala ini umumnya sama dengan yang terjadi pada pasien kanker prostat lansia.

Selain gejala, tingkat PSA, kemungkinan hidup, stadium, dan jenis pengobatan kanker prostat pada usia muda pun umumnya sama. Konsultasikan dengan dokter bila Anda merasakan gejala tertentu pada prostat Anda.

Bagaimana mencegah kanker prostat pada usia muda?

Didiagnosis memiliki kanker prostat saat masih muda sama berbahayanya dengan yang terjadi pada orang lebih tua. Oleh karena itu, Anda perlu melakukan upaya pencegahan kanker prostat sedini mungkin agar terhindar dari penyakit ini. Beberapa upaya pencegahan yang bisa Anda lakukan sejak kini, yaitu:

  • Konsumsi makanan bergizi seimbang.
  • Jaga berat badan.
  • Berolahraga rutin.
  • Hindari merokok.

Itulah tadi informasi mengenai Kenali Penyebab dan Gejala Kanker Prostat pada Usia Muda dan sekianlah artikel dari kami jasalayanankesehatan.live, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Tags:

Kenali Penyebab dan Gejala Kanker Prostat pada Usia Muda oleh - jasalayanankesehatan.live

By LayananKlinik24.online - Membahas Informasi Kesehatan →

Halo sahabat selamat datang di website jasalayanankesehatan.live, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar 5 Kondisi Medis yang Bisa Menyebabkan Batuk, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Jarang rasanya Anda menemukan orang yang belum pernah mengalami batuk. Kondisi ini cukup umum terjadi dan seringkali bukan pertanda gangguan kesehatan serius. Di sisi lain, batuk juga dapat menjadi gejala dari sebuah penyakit. 

Lalu apa saja penyakit yang biasanya memicu atau menjadi penyebab gejala batuk? Ketahui jawabannya dengan membaca ulasan mengenai batuk berikut ini.

Apa yang terjadi dalam tubuh ketika batuk?

Batuk merupakan proses alami tubuh untuk membantu membersihkan atau menghilangkan iritan (penyebab infeksi) dalam saluran pernapasan. Iritan yang sering menyebabkan batuk dan mudah ditemukan pada keseharian, misalnya asap (polusi), lendir, atau alergen (penyebab alergi) seperti debu.

Batuk dapat digolongkan menjadi dua jenis, mulai dari batuk akut hingga batuk kronis. Keduanya sama-sama bisa sangat mengganggu, terutama saat beraktivitas dan juga beristirahat.

Batuk akut maupun kronis dapat disebabkan oleh suatu kondisi medis. Lebih lanjut berikut beberapa masalah kesehatan yang memicu batuk sebagai salah satu gejalanya.

Penyakit yang bisa menjadi penyebab batuk

Teknik batuk efektif agar tidak mual

Terkadang, tidak mudah untuk menentukan apa penyebab batuk yang Anda alami. Wajar saja karena batuk bisa saja hilang dengan sendirinya tanpa membutuhkan perawatan atau pengobatan khusus.

Hanya saja, apabila batuk yang Anda alami bersifat akut atau kronis, kondisi ini dapat berlangsung selama kurang dari tiga minggu hingga terus berlanjut sampai delapan minggu. Sangat mengganggu, bukan?

Ditambah lagi, batuk juga terbagi menjadi beberapa jenis. Jenis yang paling mudah dikenali yaitu batuk kering dan berdahak. Anda perlu mengetahui apa sebenarnya penyakit atau kondisi medis penyebab batuk. Seperti yang dilansir health.harvard.edu dan beberapa sumber lain, berikut beberapa di antaranya:

Postanal drip (sindrom batuk saluran pernapasan atas)

Kondisi medis pertama ini dapat menyebabkan Anda batuk karena lendir memenuhi tenggorokan. Ini dapat diakibatkan oleh reaksi alergi, iritan pada udara yang dihirup, pilek, atau infeksi sinusitis.

Ketika lendir memenuhi tenggorokan, tubuh akan bereaksi untuk batuk sekaligus mengeluarkan lendir agar tidak masuk ke paru-paru. Apabila lendir masuk ke dalam paru dalam jangka waktu lama, hal ini dapat memicu pneumonia.

Asma

Penyakit berikutnya yang dapat memicu atau menjadi penyebab batuk adalah asma. Gejala umum yang biasa dialami penderita asma adalah sesak napas atau mengi. Namun, untuk sebagian orang gejalanya dapat berupa batuk.

Asma yang memiliki gejala batuk biasanya disertai dengan mengi, sesak di dada, dan napas pendek. Batuk karena asma biasanya berjenis kering dan cukup mengganggu, ketika olahraga atau menghirup udara dingin secara tiba-tiba.

Gastroesophageal reflux disease atau GERD

GERD terjadi ketika cairan asam dalam lambung kembali naik. Ini diakibatkan oleh otot yang biasa berfungsi menutup saluran antara esofagus dan lambung tidak dapat menutup dengan sempurna. Cairan asam dapat mengiritasi dinding esofagus dan struktur di tenggorokan sehingga memicu batuk.

Bronkitis kronis dan bronkiektasis

Bronkitis kronis merupakan peradangan menahun di tabung bronkial yang menyebabkan saluran pernapasan menyempit dan meningkatkan produksi lendir. Penyakit ini biasanya dialami oleh perokok aktif atau terpapar polusi udara industri dalam jangka waktu lama.

Bronkiektasis juga terjadi akibat peradangan yang merusak dinding tabung bronkial. Kedua penyakit ini dapat menjadi penyebab batuk kronis.

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)

Kondisi medis terakhir yang bisa menjadi penyebab batuk merupakan penyakit akibat peradangan paru kronis. Ini berdampak pada terhambatnya aliran udara dari paru-paru.

Gejala atau pertanda lain dari PPOK selain batuk termasuk sesak napas dan mengi. Sebagian besar penderita PPOK meliputi mantan perokok ataupun yang masih aktif.

Mengatasi batuk yang disebabkan kondisi medis

penyebab penyakit batuk

Pertama, pengobatan untuk batuk akibat kondisi medis harus ditujukan pada penyebabnya.

Ketika batuk yang Anda alami disertai dengan gejala lain seperti demam, sesak napas, nyeri dada, dan lain sebagainya, segera periksakan ke dokter untuk mendapat diagnosis yang tepat.

Dr. Jessica McCannon, seorang ahli paru di Mount Auburn Hospital yang berafiliasi dengan Harvard, menyatakan bahwa mengatasi batuk perlu kesabaran. Sebelum benar-benar sembuh, terkadang untuk mengobati batuk butuh beberapa jenis percobaan. Anda mungkin hanya perlu minum obat batuk yang dijual bebas untuk meringankan batuk mengganggu atau perlu mendapat perawatan khusus dari tenaga medis. 

Selain itu, jangan lupa untuk menjaga asupan makan terutama hindari makanan-makanan pedas, digoreng, berlemak, atau minuman dingin, serta makanan dan minuman pencetus GERD.

Itulah tadi informasi mengenai 5 Kondisi Medis yang Bisa Menyebabkan Batuk dan sekianlah artikel dari kami jasalayanankesehatan.live, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Tags:

5 Kondisi Medis yang Bisa Menyebabkan Batuk oleh - jasalayanankesehatan.live

By LayananKlinik24.online - Membahas Informasi Kesehatan →

Halo sahabat selamat datang di website jasalayanankesehatan.live, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Risiko Penularan COVID-19 di Kereta dan Pencegahannya oleh - jasalayanankesehatan.live, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Sejak awal pandemi merebak, para ahli kesehatan telah memperingatkan tentang tingginya risiko penularan COVID-19 di kereta, bus, dan transportasi umum lain. Kepadatan penumpang, lama waktu perjalanan, dan sirkulasi udara yang kurang baik di ruang tertutup bisa meningkatkan risiko penularan virus.

Seberapa besar risiko penularan dan bagaimana cara mencegahnya? 

Risiko Penularan COVID-19 di Kereta

Penularan covid-19 transportasi dan kereta

Sebuah studi terbaru menunjukkan risiko penularan COVID-19 di kereta sangat tergantung pada kedekatan posisi penumpang dengan orang yang terinfeksi. Semakin dekat, maka risiko penularan akan semakin tinggi. Sebaliknya, semakin jauh maka risikonya relatif rendah. 

Studi ini melibatkan ribuan penumpang yang bepergian dengan kereta cepat di China. Para peneliti menemukan bahwa tingkat penularan ke penumpang yang bersebelahan dengan orang terinfeksi COVID -19 sekitar 3,5%. 

Sedangkan penumpang di kursi depan atau belakangnya, rata-rata memiliki 1,5% peluang tertular COVID-19. Risiko penularan di kereta ini menjadi 10 kali lebih rendah bagi penumpang yang duduk berjarak satu atau dua kursi dari pasien COVID-19.

Fakta yang mengejutkan, para peneliti menemukan bahwa hanya 0,075% penumpang yang menggunakan kursi yang sebelumnya diduduki pasien COVID-19 bisa tertular virus tersebut.

Selain posisi duduk, lama waktu atau frekuensi kontak dengan pasien COVID-19 juga sangat penting. Risiko tertular akan meningkat sebesar 1,3% setiap jamnya bagi penumpang yang duduk bersebelahan dan 0,15%  bagi penumpang lainnya. 

Para peneliti percaya bahwa penumpang yang duduk bersebelahan lebih mudah tertular karena kemungkinan melakukan kontak fisik lebih tinggi atau sering bertatap muka. 

Mengurangi risiko penularan COVID-19 di transportasi umum

penularan covid-19 di transportasi umum kereta

Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 menular melalui cipratan cairan pernapasan (droplet) orang yang telah terinfeksi ketika ia batuk, bersin, atau bicara. Belakangan para peneliti juga menemukan, droplet pasien COVID-19 bisa menular melalui udara (airborne) dalam beberapa kondisi tertentu.

COVID-19 juga bisa menular melalui sentuhan dengan permukaan benda yang telah terkontaminasi virus corona lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. 

Namun beberapa pekan terakhir, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) merevisi panduan pencegahan penularan COVID-19 terbaru. Panduan tersebut menyatakan bahwa penularan COVID-19 tidak dengan mudah terjadi melalui sentuhan dengan permukaan benda seperti tiang dalam gerbong kereta atau kursi. 

Meski begitu, kemungkinan jalur penularan ini tidak boleh diabaikan, apalagi risiko penularan virus di transportasi umum yang penuh sesak. Kita tidak tahu apakah ada atau tidak penumpang yang telah terinfeksi COVID-19 lalu berpotensi menularkan virus tersebut.

Sejak pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia, para ahli kesehatan telah memperingatkan tentang tingginya risiko penularan di kereta dan kendaraan umum lain. Terutama moda transportasi yang kerap dipadati penumpang.

Setelah PSBB dilonggarkan, pemerintah bahkan mencantumkan saran untuk perusahaan agar menyediakan fasilitas antar jemput karyawan dalam panduan protokol kesehatan New Normal bagi perkantoran.

Pencegahan penularan COVID-19 yang utama adalah physical distancing atau menjaga jarak aman. Dalam penerapannya di transportasi umum berarti dengan mengurangi kepadatan jumlah penumpang. Selain itu ventilasi atau sirkulasi udara dalam kendaraan umum harus berfungsi dengan baik dan pembersihan fasilitas harus dilakukan dengan rutin. 

Sedangkan dari sisi penumpang, pastikan Anda menggunakan masker, menjaga jarak, dan pastikan tidak menyentuh wajah dengan tangan kotor.

Risiko penularan COVID-19 di kereta dan transportasi umum lain memang tidak bisa dihilangkan, tetapi bisa sedikit dikurangi. Jakarta bisa mencontoh kota-kota lain seperti Seoul, Berlin, dan Tokyo, di mana aktivitas penumpang transportasi umum mulai pulih tapi tidak ada lonjakan kasus baru.

Itulah tadi informasi mengenai Risiko Penularan COVID-19 di Kereta dan Pencegahannya oleh - jasalayanankesehatan.live dan sekianlah artikel dari kami jasalayanankesehatan.live, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Tags:

Risiko Penularan COVID-19 di Kereta dan Pencegahannya oleh - jasalayanankesehatan.live

By LayananKlinik24.online - Membahas Informasi Kesehatan →