Recent Posts

Halo sahabat selamat datang di website jasalayanankesehatan.live, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Kenali Penyebab dan Gejala Kanker Prostat pada Usia Muda, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Kanker prostat merupakan jenis penyakit kanker yang sering terjadi pada pria, terutama pria lanjut usia (lansia) atau di atas usia 65 tahun. Meski demikian, kanker prostat juga bisa terjadi pada pria yang lebih muda atau di bawah 50 tahun. Lantas, apa penyebab dan gejala kanker prostat pada usia muda? Apakah ada cara mencegahnya?

Seberapa umum kanker prostat terjadi pada pria muda?

Kanker prostat memang erat kaitannya dengan penyakit lansia. Pasalnya, risiko penyakit ini semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia. Bahkan, American Cancer Society menyebutkan, enam dari sepuluh kasus kanker prostat ditemukan pada pria berusia di atas 65 tahun.

Namun, penyakit kanker prostat juga bisa terjadi pada pria yang lebih muda.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan di Journal of the Chinese Medical Association, satu persen dari total kasus kanker prostat merupakan pasien yang berusia lebih muda, yaitu di bawah 50 tahun. Adapun rata-rata dari pasien tersebut didiagnosis memiliki kanker prostat berjenis adenokarsinoma.

Bahkan, penelitian lain pada 2019 menunjukkan, jumlah penderita kanker prostat terus meningkat pada remaja dan dewasa muda di berbagai negara. Kasusnya tercatat meningkat secara stabil, sekitar dua persen per tahun, sejak 1990 di seluruh kelompok usia antara 15-40 tahun.

Meski demikian, kasus kanker prostat pada pria muda ini masih sangat jarang terjadi. Dari 100.000 pria di bawah usia 35 tahun, hanya 0,2 yang mengalami kanker prostat, sedangkan pada usia 70 tahun, rata-rata kasusnya bisa mencapai 800 dari 100.000 orang.

Meski jarang terjadi, kanker prostat di usia muda tetap perlu diwaspadai. Apalagi, beberapa kasus kanker prostat pada pria muda ditemukan dalam kondisi stadium kanker prostat lanjut.

Penyebab kanker prostat pada usia muda

Kanker prostat terjadi ketika adanya sel abnormal yang tumbuh dan tidak terkontrol di kelenjar prostat. Pertumbuhan sel abnormal ini umumnya disebabkan oleh mutasi genetik yang dapat diwariskan dari orangtua atau yang berkembang dengan sendirinya (bukan keturunan).

Meski demikian, penyebab kanker prostat pada usia muda belum diketahui secara pasti. Para peneliti menduga, kanker prostat bisa ditemukan pada pria muda karena tumor di dalamnya berkembang dengan cepat.

Sementara dugaan lainnya karena meningkatnya angka kesadaran para pria untuk melakukan skrining kanker prostat, seperti tes PSA, lebih dini. Namun, beberapa faktor lain juga disebut berperan dalam menumbuhkan sel kanker di kelenjar prostat. Faktor-faktor tersebut, yaitu:

1. Keturunan atau riwayat keluarga

Salah satu penyebab kanker prostat yang mungkin terjadi, yaitu mutasi genetik yang diturunkan dari keluarga. Pada pria muda yang mendapat diagnosis kanker prostat umumnya ditemukan mutasi genetik HOXB13, yang didapat dari orangtua.

Meski demikian, kasus mutasi genetik ini sangat jarang, sehingga kasus kanker prostat pada usia yang lebih muda pun jarang ditemukan.

2. Obesitas dan pola hidup yang tidak sehat

Kegemukan atau obesitas memang kerap menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Pada kanker prostat, obesitas disebut dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker prostat agresif atau stadium lanjut.

Pada anak muda, obesitas memang kerap terjadi. Hal ini umumnya terkait dengan gaya hidup yang buruk, seperti kurang gerak atau pola makan yang tidak sehat.

Selain yang disebutkan di atas, beberapa faktor lain pun disebut dapat menjadi penyebab kanker prostat pada usia muda, seperti infeksi HPV, atau paparan zat dari lingkungan.

Gejala-gejala kanker prostat pada usia muda

Pasien kanker prostat yang berusia lebih muda atau di bawah 50 tahun lebih jarang menunjukkan gejala awal. Namun, pada beberapa kasus, gejala kanker prostat mungkin dirasakan ringan dan semakin memburuk secara bertahap.

Beberapa gejala yang mungkin dirasakan, seperti nyeri pada perut bagian bawah, aliran urine yang melemah, atau sering buang air kecil pada malam hari (nokturia). Adapun gejala-gejala ini umumnya sama dengan yang terjadi pada pasien kanker prostat lansia.

Selain gejala, tingkat PSA, kemungkinan hidup, stadium, dan jenis pengobatan kanker prostat pada usia muda pun umumnya sama. Konsultasikan dengan dokter bila Anda merasakan gejala tertentu pada prostat Anda.

Bagaimana mencegah kanker prostat pada usia muda?

Didiagnosis memiliki kanker prostat saat masih muda sama berbahayanya dengan yang terjadi pada orang lebih tua. Oleh karena itu, Anda perlu melakukan upaya pencegahan kanker prostat sedini mungkin agar terhindar dari penyakit ini. Beberapa upaya pencegahan yang bisa Anda lakukan sejak kini, yaitu:

  • Konsumsi makanan bergizi seimbang.
  • Jaga berat badan.
  • Berolahraga rutin.
  • Hindari merokok.

Itulah tadi informasi mengenai Kenali Penyebab dan Gejala Kanker Prostat pada Usia Muda dan sekianlah artikel dari kami jasalayanankesehatan.live, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Tags:

Kenali Penyebab dan Gejala Kanker Prostat pada Usia Muda oleh - jasalayanankesehatan.live

By LayananKlinik24.online - Membahas Informasi Kesehatan →

Halo sahabat selamat datang di website jasalayanankesehatan.live, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar 5 Kondisi Medis yang Bisa Menyebabkan Batuk, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Jarang rasanya Anda menemukan orang yang belum pernah mengalami batuk. Kondisi ini cukup umum terjadi dan seringkali bukan pertanda gangguan kesehatan serius. Di sisi lain, batuk juga dapat menjadi gejala dari sebuah penyakit. 

Lalu apa saja penyakit yang biasanya memicu atau menjadi penyebab gejala batuk? Ketahui jawabannya dengan membaca ulasan mengenai batuk berikut ini.

Apa yang terjadi dalam tubuh ketika batuk?

Batuk merupakan proses alami tubuh untuk membantu membersihkan atau menghilangkan iritan (penyebab infeksi) dalam saluran pernapasan. Iritan yang sering menyebabkan batuk dan mudah ditemukan pada keseharian, misalnya asap (polusi), lendir, atau alergen (penyebab alergi) seperti debu.

Batuk dapat digolongkan menjadi dua jenis, mulai dari batuk akut hingga batuk kronis. Keduanya sama-sama bisa sangat mengganggu, terutama saat beraktivitas dan juga beristirahat.

Batuk akut maupun kronis dapat disebabkan oleh suatu kondisi medis. Lebih lanjut berikut beberapa masalah kesehatan yang memicu batuk sebagai salah satu gejalanya.

Penyakit yang bisa menjadi penyebab batuk

Teknik batuk efektif agar tidak mual

Terkadang, tidak mudah untuk menentukan apa penyebab batuk yang Anda alami. Wajar saja karena batuk bisa saja hilang dengan sendirinya tanpa membutuhkan perawatan atau pengobatan khusus.

Hanya saja, apabila batuk yang Anda alami bersifat akut atau kronis, kondisi ini dapat berlangsung selama kurang dari tiga minggu hingga terus berlanjut sampai delapan minggu. Sangat mengganggu, bukan?

Ditambah lagi, batuk juga terbagi menjadi beberapa jenis. Jenis yang paling mudah dikenali yaitu batuk kering dan berdahak. Anda perlu mengetahui apa sebenarnya penyakit atau kondisi medis penyebab batuk. Seperti yang dilansir health.harvard.edu dan beberapa sumber lain, berikut beberapa di antaranya:

Postanal drip (sindrom batuk saluran pernapasan atas)

Kondisi medis pertama ini dapat menyebabkan Anda batuk karena lendir memenuhi tenggorokan. Ini dapat diakibatkan oleh reaksi alergi, iritan pada udara yang dihirup, pilek, atau infeksi sinusitis.

Ketika lendir memenuhi tenggorokan, tubuh akan bereaksi untuk batuk sekaligus mengeluarkan lendir agar tidak masuk ke paru-paru. Apabila lendir masuk ke dalam paru dalam jangka waktu lama, hal ini dapat memicu pneumonia.

Asma

Penyakit berikutnya yang dapat memicu atau menjadi penyebab batuk adalah asma. Gejala umum yang biasa dialami penderita asma adalah sesak napas atau mengi. Namun, untuk sebagian orang gejalanya dapat berupa batuk.

Asma yang memiliki gejala batuk biasanya disertai dengan mengi, sesak di dada, dan napas pendek. Batuk karena asma biasanya berjenis kering dan cukup mengganggu, ketika olahraga atau menghirup udara dingin secara tiba-tiba.

Gastroesophageal reflux disease atau GERD

GERD terjadi ketika cairan asam dalam lambung kembali naik. Ini diakibatkan oleh otot yang biasa berfungsi menutup saluran antara esofagus dan lambung tidak dapat menutup dengan sempurna. Cairan asam dapat mengiritasi dinding esofagus dan struktur di tenggorokan sehingga memicu batuk.

Bronkitis kronis dan bronkiektasis

Bronkitis kronis merupakan peradangan menahun di tabung bronkial yang menyebabkan saluran pernapasan menyempit dan meningkatkan produksi lendir. Penyakit ini biasanya dialami oleh perokok aktif atau terpapar polusi udara industri dalam jangka waktu lama.

Bronkiektasis juga terjadi akibat peradangan yang merusak dinding tabung bronkial. Kedua penyakit ini dapat menjadi penyebab batuk kronis.

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)

Kondisi medis terakhir yang bisa menjadi penyebab batuk merupakan penyakit akibat peradangan paru kronis. Ini berdampak pada terhambatnya aliran udara dari paru-paru.

Gejala atau pertanda lain dari PPOK selain batuk termasuk sesak napas dan mengi. Sebagian besar penderita PPOK meliputi mantan perokok ataupun yang masih aktif.

Mengatasi batuk yang disebabkan kondisi medis

penyebab penyakit batuk

Pertama, pengobatan untuk batuk akibat kondisi medis harus ditujukan pada penyebabnya.

Ketika batuk yang Anda alami disertai dengan gejala lain seperti demam, sesak napas, nyeri dada, dan lain sebagainya, segera periksakan ke dokter untuk mendapat diagnosis yang tepat.

Dr. Jessica McCannon, seorang ahli paru di Mount Auburn Hospital yang berafiliasi dengan Harvard, menyatakan bahwa mengatasi batuk perlu kesabaran. Sebelum benar-benar sembuh, terkadang untuk mengobati batuk butuh beberapa jenis percobaan. Anda mungkin hanya perlu minum obat batuk yang dijual bebas untuk meringankan batuk mengganggu atau perlu mendapat perawatan khusus dari tenaga medis. 

Selain itu, jangan lupa untuk menjaga asupan makan terutama hindari makanan-makanan pedas, digoreng, berlemak, atau minuman dingin, serta makanan dan minuman pencetus GERD.

Itulah tadi informasi mengenai 5 Kondisi Medis yang Bisa Menyebabkan Batuk dan sekianlah artikel dari kami jasalayanankesehatan.live, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Tags:

5 Kondisi Medis yang Bisa Menyebabkan Batuk oleh - jasalayanankesehatan.live

By LayananKlinik24.online - Membahas Informasi Kesehatan →

Halo sahabat selamat datang di website jasalayanankesehatan.live, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Risiko Penularan COVID-19 di Kereta dan Pencegahannya oleh - jasalayanankesehatan.live, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Sejak awal pandemi merebak, para ahli kesehatan telah memperingatkan tentang tingginya risiko penularan COVID-19 di kereta, bus, dan transportasi umum lain. Kepadatan penumpang, lama waktu perjalanan, dan sirkulasi udara yang kurang baik di ruang tertutup bisa meningkatkan risiko penularan virus.

Seberapa besar risiko penularan dan bagaimana cara mencegahnya? 

Risiko Penularan COVID-19 di Kereta

Penularan covid-19 transportasi dan kereta

Sebuah studi terbaru menunjukkan risiko penularan COVID-19 di kereta sangat tergantung pada kedekatan posisi penumpang dengan orang yang terinfeksi. Semakin dekat, maka risiko penularan akan semakin tinggi. Sebaliknya, semakin jauh maka risikonya relatif rendah. 

Studi ini melibatkan ribuan penumpang yang bepergian dengan kereta cepat di China. Para peneliti menemukan bahwa tingkat penularan ke penumpang yang bersebelahan dengan orang terinfeksi COVID -19 sekitar 3,5%. 

Sedangkan penumpang di kursi depan atau belakangnya, rata-rata memiliki 1,5% peluang tertular COVID-19. Risiko penularan di kereta ini menjadi 10 kali lebih rendah bagi penumpang yang duduk berjarak satu atau dua kursi dari pasien COVID-19.

Fakta yang mengejutkan, para peneliti menemukan bahwa hanya 0,075% penumpang yang menggunakan kursi yang sebelumnya diduduki pasien COVID-19 bisa tertular virus tersebut.

Selain posisi duduk, lama waktu atau frekuensi kontak dengan pasien COVID-19 juga sangat penting. Risiko tertular akan meningkat sebesar 1,3% setiap jamnya bagi penumpang yang duduk bersebelahan dan 0,15%  bagi penumpang lainnya. 

Para peneliti percaya bahwa penumpang yang duduk bersebelahan lebih mudah tertular karena kemungkinan melakukan kontak fisik lebih tinggi atau sering bertatap muka. 

Mengurangi risiko penularan COVID-19 di transportasi umum

penularan covid-19 di transportasi umum kereta

Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 menular melalui cipratan cairan pernapasan (droplet) orang yang telah terinfeksi ketika ia batuk, bersin, atau bicara. Belakangan para peneliti juga menemukan, droplet pasien COVID-19 bisa menular melalui udara (airborne) dalam beberapa kondisi tertentu.

COVID-19 juga bisa menular melalui sentuhan dengan permukaan benda yang telah terkontaminasi virus corona lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. 

Namun beberapa pekan terakhir, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) merevisi panduan pencegahan penularan COVID-19 terbaru. Panduan tersebut menyatakan bahwa penularan COVID-19 tidak dengan mudah terjadi melalui sentuhan dengan permukaan benda seperti tiang dalam gerbong kereta atau kursi. 

Meski begitu, kemungkinan jalur penularan ini tidak boleh diabaikan, apalagi risiko penularan virus di transportasi umum yang penuh sesak. Kita tidak tahu apakah ada atau tidak penumpang yang telah terinfeksi COVID-19 lalu berpotensi menularkan virus tersebut.

Sejak pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia, para ahli kesehatan telah memperingatkan tentang tingginya risiko penularan di kereta dan kendaraan umum lain. Terutama moda transportasi yang kerap dipadati penumpang.

Setelah PSBB dilonggarkan, pemerintah bahkan mencantumkan saran untuk perusahaan agar menyediakan fasilitas antar jemput karyawan dalam panduan protokol kesehatan New Normal bagi perkantoran.

Pencegahan penularan COVID-19 yang utama adalah physical distancing atau menjaga jarak aman. Dalam penerapannya di transportasi umum berarti dengan mengurangi kepadatan jumlah penumpang. Selain itu ventilasi atau sirkulasi udara dalam kendaraan umum harus berfungsi dengan baik dan pembersihan fasilitas harus dilakukan dengan rutin. 

Sedangkan dari sisi penumpang, pastikan Anda menggunakan masker, menjaga jarak, dan pastikan tidak menyentuh wajah dengan tangan kotor.

Risiko penularan COVID-19 di kereta dan transportasi umum lain memang tidak bisa dihilangkan, tetapi bisa sedikit dikurangi. Jakarta bisa mencontoh kota-kota lain seperti Seoul, Berlin, dan Tokyo, di mana aktivitas penumpang transportasi umum mulai pulih tapi tidak ada lonjakan kasus baru.

Itulah tadi informasi mengenai Risiko Penularan COVID-19 di Kereta dan Pencegahannya oleh - jasalayanankesehatan.live dan sekianlah artikel dari kami jasalayanankesehatan.live, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Tags:

Risiko Penularan COVID-19 di Kereta dan Pencegahannya oleh - jasalayanankesehatan.live

By LayananKlinik24.online - Membahas Informasi Kesehatan →

Halo sahabat selamat datang di website jasalayanankesehatan.live, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Vaksin Hepatitis A pada Anak, Ini Manfaat dan Jadwalnya oleh - jasalayanankesehatan.live, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Imunisasi pada anak sangat penting untuk mencegah penularan penyakit sejak dini. Jenis imunisasi yang harus diberikan pada si kecil juga sangat banyak, salah satunya vaksin hepatitis A. Seberapa penting vaksin ini? Apakah harus tetap diberikan meski sudah melakukan imunisasi hepatitis B? Berikut penjelasannya.

Apa itu vaksin hepatitis A?

vaksin pcv

Imunisasi hepatitis A adalah cara untuk mencegah infeksi virus penyebab hepatitis A (HAV). Hepatitis A merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang sangat menular. Virus HAV menginfeksi bagian hati secara akut sehingga mengakibatkan peradangan.

Apa perbedaannya dengan hepatitis B? Mengutip dari Mayo Clinic, hepatitis B ditularkan lewat cairan tubuh, seperti darah, air liur, sperma, atau cairan vagina. Ibu yang memiliki hepatitis B akan menularkan kepada bayi di dalam kandungannya.

Sementara itu pada hepatitis A, penyebarannya bisa dengan mudah ditularkan melalui konsumsi makanan dan minuman, melakukan hubungan seksual dengan penderita, atau terpapar feses yang telah mengandung virus hepatitis A.

Perilaku hidup tidak bersih dan sehat seperti jarang mencuci tangan atau tinggal di lingkungan yang tidak higienis juga dapat menjadi faktor risiko seseorang untuk terkena penyakit hepatitis A.

Orang dewasa yang terinfeksi virus hepatitis A biasanya akan mengalami sejumlah gangguan kesehatan seperti merasa kelelahan, demam, mual, muntah-muntah, dan penyakit kuning (jaundice). 

Sebaliknya, anak-anak memang secara umum justru tidak memperlihatkan gejala saat terkena infeksi virus hepatitis A. Namun, tetap menjadi carrier atau pembawa yang dapat menularkan virus. Kondisi ini justru jauh lebih berbahaya karena tidak terdeteksi.

Oleh sebab itu, pemberian imunisasi hepatitis A tidak hanya berdampak positif terhadap kesehatan pribadi saja. Namun juga bisa membasmi wabah penyakit yang merugikan banyak orang.

Bagaimana cara kerja vaksin hepatitis A?

umur berapa anak vaksin HPV

Mengutip dari WHO, ada dua tipe vaksin yang dapat digunakan untuk mencegah infeksi virus hepatitis A. 

Pertama, Live attenuated vaccines, yang khusus diberikan untuk menghentikan wabah hepatitis A di India dan Tiongkok, dan vaksin HAV non-aktif (formaldehyde-inactivated vaccines), yang umum digunakan diberbagai negara lainnya.

Untuk orang dewasa biasanya terdapat vaksin kombinasi yang sekaligus dapat melawan infeksi virus hepatitis A dan B. Pada masing-masing pemberian, dosis imunisasi hepatitis A untuk anak-anak berumur 1 sampai 15 tahun adalah 0.5 ml.

Pada orang dewasa pemberian vaksin hepatitis A juga dilakukan sebanyak dua kali dengan rentang waktu 6 bulan setelah vaksinasi pertama. Dosis yang diberikan adalah 1 ml untuk setiap pemberian vaksin.

Namun untuk orang yang memiliki kondisi kesehatan dengan kekebalan tubuh yang tinggi, mendapatkan satu dosis vaksin sudah cukup efektif untuk menangkal infeksi virus hepatitis A.

Siapa yang membutuhkan vaksin hepatitis A?

Bayi akan divaksin pada jadwal imunisasi bayi

Meskipun strategi pencegahan melalui pemberian imunisasi hepatitis A sudah gencar dilakukan oleh pemerintah atau badan kesehatan internasional WHO, sekelompok orang masih berisiko terjangkit penyakit ini.

Bayi dan anak-anak

Berdasarkan jadwal pemberian imunisasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak membutuhkan dua kali penyuntikan vaksin hepatitis A dengan jarak pemberian 6-12 bulan. 

Pemberian imunisasi hepatitis A sudah bisa dilakukan sejak si kecil usia 24 bulan atau dua tahun sampai 18 tahun. Sebagai contoh jeda pemberiannya seperti di bawah ini:

  • Usia 24 bulan untuk suntikan pertama
  • Usia 3 tahun untuk suntikan kedua

Imunisasi Hepatitis A bisa diberikan pada bayi mulai 6 bulan kalau akan bepergian ke tempat yang memiliki kasus hepatitis A yang tinggi. 

Orang dewasa

Pada studi yang dipublikasikan Frontline Medical Communications menunjukkan bahwa orang dewasa termasuk ke dalam kelompok orang yang rentan terhadap paparan virus hepatitis A.

Ini membuat vaksin hepatitis A masih perlu diberikan untuk meredakan epidemi. Berikut beberapa kondisinya:

  • Akan berpergian ke tempat yang mengalami wabah penyakit hepatitis A (vaksin hepatitis A sebaiknya diberikan 2-4 minggu sebelum keberangkatan)
  • Pulang dari tempat yang terjangkit epidemi hepatitis A
  • Memiliki penyakit hati kronis
  • Tinggal bersama orang yang terinfeksi virus hepatitis A
  • Menjalani pengobatan yang menggunakan jarum suntik
  • Menggunakan obat-obatan terlarang
  • Bekerja dalam penelitian virus hepatitis A
  • Merawat atau berinteraksi dengan hewan primata yang terinfeksi

Bagaimana dengan ibu hamil dan menyusui? Apakah aman melakukan vaksin hepatitis A? Mengutip dari Mother to Baby, ibu hamil dan menyusui tetap bisa mendapatkan imunisasi hepatitis A. 

Vaksin ini tidak berdampak buruk pada proses menyusui dan tidak menyebabkan keguguran pada ibu hamil.

Siapa yang tidak boleh diberikan vaksin hepatitis A?

vaksin hepatitis A

Manfaat imunisasi yaitu menjadi salah satu cara untuk mencegah penyebaran dan penularan penyakit hepatitis A. Namun ada beberapa kondisi yang membuat seseorang harus menunda, bahkan tidak boleh diberikan vaksin. 

Memiliki alergi yang mengancam jiwa

Memiliki reaksi alergi kronis yang mengancam keselamatan jiwa. Biasanya reaksi dari alergi akan muncul setelah mendapatkan vaksin hepatitis A. Oleh karena itu, tanyakan terlebih dahulu pada petugas kesehatan komponen apa saja yang terkandung pada vaksin tersebut.

Sakit ringan

Biasanya Anda tetap diperbolehkan mendapatkan vaksin hepatitis A jika mengalami batuk pilek atau merasa tidak enak badan. Namun jika mengalami penyakit parah, misalnya demam tinggi, makan pemberian vaksin dapat ditunda sampai Anda seratus persen pulih.

Apa efek samping vaksin hepatitis A?

vaksin hepatitis A

Seperti obat lainnya, vaksin juga memiliki efek samping meski umumnya ringan. Menurut WHO, imunisasi hepatitis A umumnya bekerja dengan efektif tanpa menimbulkan efek samping berarti, tapi kemungkinan terjadinya reaksi yang berbahaya tetap ada.

Dilansir dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) ada efek samping imunisasi yang mungkin terjadi.

Efek samping ringan yang umum terjadi

Biasanya imunisasi hepatitis A hanya menimbulkan efek samping ringan yang tidak membahayakan, seperti:

  • Kemerahan di area yang disuntik
  • Demam ringan
  • Sakit kepala
  • Kelelahan

Kondisi di atas biasanya timbul segera setelah imunisasi selesai diberikan dan akan hilang sendiri 1-2 hari. Dokter akan menjelaskan reaksi ini lebih detail saat konsultasi.

Efek samping berat yang sangat langka

Pemberian vaksin dapat memicu terjadinya reaksi alergi yang cukup serius, meski sangat jarang terjadi. Rasio kemungkinan 1 diantara 1 juta dosis vaksin yang diberikan, tapi reaksi ini dapat berlangsung dalam beberapa menit saja setelah vaksin diberikan.

Reaksi yang muncul yaitu:

  • Pembengkakan di wajah
  • Tubuh menggigil
  • Kesulitan bernapas
  • Jantung berdegup kencang

Selain itu, beberapa orang bisa pingsan setelah menjalani vaksin. Untuk mengatasinya, berbaringlah selama 15 menit setelah melakukan imunisasi hepatitis A. 

Cara ini bisa membantu untuk mencegah pingsan dan terluka akibat terjatuh. Beritahu dokter bila mengalami pusing, pandangan kabur, atau telinga mendengung.

Namun hal yang harus diingat adalah efek samping anak yang tidak diimunisasi atau anak terlambat imunisasi lebih besar dibanding yang mendapat vaksin. Maka, penting untuk orangtua memberikan pencegahan agar si kecil tidak tertular dan menyebarkan penyakit berbahaya.

Itulah tadi informasi dari joker123 mengenai Vaksin Hepatitis A pada Anak, Ini Manfaat dan Jadwalnya oleh - jasalayanankesehatan.live dan sekianlah artikel dari kami jasalayanankesehatan.live, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Tags:

Vaksin Hepatitis A pada Anak, Ini Manfaat dan Jadwalnya oleh - jasalayanankesehatan.live

By LayananKlinik24.online - Membahas Informasi Kesehatan →

Halo sahabat selamat datang di website jasalayanankesehatan.live, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Kasus Baru Covid-19 di indonesia Alami Penurunan 11% oleh - jasalayanankesehatan.live, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”3.22″ transparent_background=”off” make_fullwidth=”off” use_custom_width=”on” width_unit=”on” custom_width_px=”700px”][et_pb_row _builder_version=”3.25″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat” max_width=”700px” make_fullwidth=”off” use_custom_width=”on” width_unit=”on” custom_width_px=”700px”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.25″ custom_padding=”|||” custom_padding__hover=”|||”][et_pb_post_title comments=”off” _builder_version=”3.0.87″ parallax_effect=”off” use_border_color=”off” border_color=”#ffffff” border_style=”solid”][/et_pb_post_title][et_pb_text _builder_version=”4.4.5″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat” z_index_tablet=”500″ use_border_color=”off”]

Dilansir dari detik News Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Letjen Doni Monardo menyebut laju kasus baru virus Corona di Indonesia mengalami penurunan sebesar 11%. dalam konferensi video seusai rapat terbatas dengan Presiden Jokowi, Senin (4/5).

Teramati dari situs corona.jakarta.go.id, Senin (4/5/2020), kasus baru pada hari ini tercatat ada 55 kasus. Terakhir kali Jakarta mencatatkan kasus baru yang lebih rendah dari hari ini adalah pada 31 Maret lalu dengan 14 kasus baru.

Berikut adalah catatan jumlah kasus baru, atau penambahan kasus positif COVID-19 per harinya, dalam sepekan terakhir di Jakarta:

  • 28 April: 118 kasus baru
  • 29 April: 83 kasus baru
  • 30 April: 105 kasus baru
  • 1 Mei: 145 kasus baru
  • 2 Mei: 72 kasus baru
  • 3 Mei: 62 kasus baru
  • 4 Mei: 55 kasus baru

Kasus Baru Covid-19

Epidemiolog soal Laju Kasus Baru Corona Turun 11%: Waspada Jumlah Tesnya

Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menilai laju kasus baru virus Corona di Indonesia yang mengalami penurunan sebesar 11% perlu diwaspadai. Dikhawatirkan penurunan itu hanya tergantung pada jumlah kasus positif pada jumlah tes yang dilakukan.

“Yang perlu diwaspadai adalah satu, jumlah tesnya. Jadi kita hanya bisa interpretasi data itu secara benar kalau kita tahu jumlah yang dites per harinya berapa. Karena jumlah yang positif kan tergantung jumlah yang dites, kalau jumlah tes turun, positifnya pasti turun juga, nah kita harus bandingan dengan jumlah yang ditesnya,” kata epidemiolog FKM UI, Iwan Ariawan saat dihubungi Rolando Fransiscus Sihombing detik news, Senin (4/5/2020).

Hal yang perlu diwaspadai kedua adalah penurunan itu bisa saja hanya berdasarkan data satu atau dua hari. Iwan menilai terlalu dini bila angka tersebut berdasarkan waktu yang singkat.

“Kemudian kita harus hati-hati kalau baru turun 1 atau 2 titik, 1 atau 2 hari gitu ya. Itu bisa saja cuma variasi saja, nanti bisa naik lagi. Jadi terlalu dini kalau kita lihat 1 atau 2 hari atau 3 hari turun kita mengatakan itu sudah turun,” ujar Iwan.

“Kita berharap semoga turun, tapi masih terlalu dini untuk mengatakan itu sudah turun,” imbuhnya.

Soal penurunan kasus Corona di Jakarta, Gubernur Anies Baswedan pernah mengatakan ini bukan berarti Jakarta sudah terbebas dari COVID-19. Masyarakat Jakarta masih harus bertempur melawan virus Corona.

“Ini tidak boleh diartikan sebagai PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)-nya kendor, harus kita lebih disiplin, harus kita lebih ketat, karena masih ditemukan kasus-kasus positif di masyarakat,” kata Anies dalam jumpa pers evaluasi PSBB yang disiarkan langsung di YouTube Pemprov DKI, Jumat (1/5) kemarin.

Source:

 

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Itulah tadi informasi dari judi poker mengenai Kasus Baru Covid-19 di indonesia Alami Penurunan 11% oleh - jasalayanankesehatan.live dan sekianlah artikel dari kami jasalayanankesehatan.live, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Tags:

Kasus Baru Covid-19 di indonesia Alami Penurunan 11% oleh - jasalayanankesehatan.live

By LayananKlinik24.online - Membahas Informasi Kesehatan →

Halo sahabat selamat datang di website jasalayanankesehatan.live, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Vaksin COVID-19 Buatan Oxford Berhasil Picu Respons Kekebalan oleh - jasalayanankesehatan.live, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh University of Oxford, Inggris berhasil memicu terbentuknya antibodi dan sel-T pada peserta uji klinis. Antibodi dan sel-T adalah bala tentara dalam tubuh yang mampu mendeteksi dan melawan virus jahat yang akan menginfeksi organ tubuh.

Penelitian ini masih belum selesai dan harus dilanjutkan ke tahap uji klinis selanjutnya, tapi pemerintah Inggris percaya vaksin ini akan berhasil melewati 2 tahapan uji klinis selanjutnya. Mereka bahkan telah memesan 100 juta dosis vaksin. 

Perkembangan vaksin COVID-19 dari Oxford

Vaksin covid-19 oxford

Peneliti University of Oxford berkolaborasi dengan perusahaan “Astrazeneca” telah merilis hasil uji klinis vaksin COVID-19 fase 1/2 di The Lancet pada Senin (20/7). 

Hasilnya, vaksin Oxford ini merespons sel-T dalam waktu 14 hari dan merespons antibodi dalam waktu 28 hari. Antibodi dan sel-T ini terbentuk pada sebagian besar peserta setelah disuntikkan vaksin satu kali dan pada semua peserta setelah suntikan kedua.

Antibodi adalah protein kecil yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh dan menempel pada permukaan virus. Antibodi ini dapat menetralisir atau menonaktifkan virus yang membahayakan tubuh. Sedangkan sel-T adalah sejenis darah putih yang bisa mengidentifikasi sel tubuh yang telah terinfeksi virus dan menghancurkannya.

“Sistem kekebalan tubuh mempunyai dua cara untuk menemukan dan menyerang patogen (virus) yakni respons antibodi dan sel-T. Vaksin ini dimaksudkan untuk membentuk keduanya, sehingga dapat menyerang virus yang beredar di dalam tubuh, serta menyerang sel yang telah terinfeksi,” ujar ketua peneliti Dr. Andrew Pollard.

Dari penelitian ini, diharapkan sistem kekebalan dapat “mengingat” virus, sehingga vaksin Oxford tersebut akan melindungi orang untuk jangka waktu yang lama.

“Namun, kami perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan bahwa vaksin melindungi secara efektif terhadap infeksi SARS-CoV-2, dan untuk berapa lama perlindungan berlangsung,” lanjutnya.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

95,418

Terkonfirmasi

53,945

Sembuh

4,665

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Langkah uji klinis selanjutnya sampai vaksin siap diproduksi

Vaksin untuk kanker covid-19 oxford

Sejauh ini hasil uji klinis terbilang menjanjikan. Tapi masih dibutuhkan uji klinis lanjutan untuk memastikan vaksin ini cukup aman untuk diberikan kepada semua orang. 

“Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk dapat memastikan apakah vaksin kami akan membantu penanganan pandemi COVID-19,” Profesor Sarah Gilbert, peneliti dari University of Oxford.

Saat ini belum jelas seberapa efektif kinerja vaksin pada orang yang lebih tua dan orang dengan penyakit penyerta. 

Uji vaksin yang disebut “ChAdOx1 nCoV-19” ini melibatkan 1.077 peserta berusia 18 hingga 55 tahun. Pengujian dilakukan di lima rumah sakit di Inggris sejak April hingga akhir Mei 2020.

Studi ini juga belum dapat menunjukkan apakah vaksin Oxford dapat mencegah orang menjadi sakit atau mengurangi gejala infeksi COVID-19. 

Menurut Pusat Pengendalian Penyakit Amerika (CDC), uji klinis pada vaksin diwajibkan melalui 3 fase uji. Fase 1 biasanya mempelajari sejumlah kecil orang untuk mengetahui apakah vaksin tersebut aman dan memunculkan respons antibodi.

Jalan Panjang Indonesia dalam Membuat Vaksin COVID-19

Pada fase 2, studi diperluas dan vaksin diberikan kepada orang-orang yang memiliki karakteristik seperti usia dan kesehatan fisik mirip dengan orang yang menjadi sasaran infeksi. Fase ketiga dilakukan kepada sejumlah besar orang untuk diuji ulang kemanjuran, keamanan, dan keselamatan peserta uji.

Selanjutnya, peneliti akan melakukan uji klinis tahap selanjutnya pada lebih dari 10.000 orang peserta di Inggris. Penelitian juga akan diperluas ke negara lain di luar Inggris, karena di Inggris tidak memiliki cukup banyak kasus penularan COVID-19. 

Cara paling efektif dalam uji klinis lanjutan adalah dengan mengujinya di zona merah atau wilayah dengan angka penularan yang tinggi.

Rencananya uji klinis pada vaksin ini akan dilakukan besar-besaran, melibatkan 30.000 orang di Amerika Serikat, 2.000 orang di Afrika Selatan, dan 5.000 orang di Brasil.

Peneliti Oxford juga akan melakukan uji tantang, yakni peserta yang telah disuntikkan vaksin dengan sengaja ditularkan SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Namun masih ada masalah etik karena kurangnya penanganan medis pada pasien COVID-19. 

Kapan vaksin akan siap digunakan?

vaksin pneumonia

Peneliti mengatakan jika lolos semua uji klinis, vaksin COVID-19 Oxford ini paling cepat akan siap diproduksi pada awal September 2020. Perusahaan AstraZeneca mematok target siap memproduksi vaksin secara masal pada akhir 2020. 

Perusahaan juga telah meneken perjanjian kerjasama dengan berbagai negara untuk memastikan mereka mendapatkan vaksin dengan dosis yang cukup. 

Selain Astrazeneca, ada beberapa perusahaan lain yang juga sedang bekerjasama dengan lembaga yang sedang mengembangkan vaksin. Mayoritas dari mereka juga mematok target menyelesaikan dan lolos uji pada akhir tahun dan selesai produksi di awal tahun 2021. 

Menurut data organisasi kesehatan dunia (WHO), setidaknya ada calon vaksin COVID-19 yang saat ini dalam proses uji klinis di seluruh dunia.  Di antaranya vaksin COVID-19 Moderna (Amerika Serikat) dan Sinovac Biotech (China) yang berencana bekerjasama dengan Bio Farma Indonesia dalam uji klinis fase 3.

Itulah tadi informasi dari agen poker online mengenai Vaksin COVID-19 Buatan Oxford Berhasil Picu Respons Kekebalan oleh - jasalayanankesehatan.live dan sekianlah artikel dari kami jasalayanankesehatan.live, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Tags:

Vaksin COVID-19 Buatan Oxford Berhasil Picu Respons Kekebalan oleh - jasalayanankesehatan.live

By LayananKlinik24.online - Membahas Informasi Kesehatan →

Halo sahabat selamat datang di website jasalayanankesehatan.live, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Berbagai Penyebab Bronkitis yang Perlu Anda Waspadai oleh - jasalayanankesehatan.live, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Penyakit bronkitis merupakan peradangan pada saluran pernapasan yang membawa udara dari dan menuju paru-paru. Bronkitis dapat bersifat akut atau kronis, yang bisa disebabkan oleh beberapa hal. Mengetahui penyebabnya secara pasti dapat membantu Anda mendapatkan pengobatan bronkitis yang tepat dan terhindar dari komplikasi bronkitis. Simak ulasan tentang apa penyebab penyakit bronkitis di bawah ini.

Apa penyebab penyakit bronkitis?

Jika Anda mengidap penyakit bronkitis, sel-sel yang melapisi bronkus menjadi terinfeksi. Infeksi biasanya dimulai di hidung atau tenggorokan, kemudian berlanjut ke saluran bronkial.

Ketika tubuh mencoba melawan infeksi, tabung bronkial akan membengkak. Inilah yang kemudian menyebabkan Anda batuk berdahak, atau terkadang batuk kering.

Pembengkakan itu kemudian mempersempit saluran pernapasan Anda. Akibatnya, aliran udara jadi terhambat. Akhirnya, muncullah gejala bronkitis, seperti mengi (napas berbunyi ngik-ngik), sesak dada, dan sesak napas.

Penyebab bronkitis dapat dijelaskan berdasarkan jenisnya, yaitu akut dan kronis. Simak penjelasannya berikut ini.

Bronkitis akut

Bronkitis akut merupakan peradangan pada selaput saluran bronkial yang terjadi dalam waktu singkat. Penyebab bronkitis ini biasanya terjadi karena infeksi virus dan bisa sembuh dengan sendirinya.

Penyakit bronkitis akut biasanya jarang disebabkan oleh infeksi bakteri. Virus yang umumnya menyebabkan bronkitis akut adalah:

  • Rhinovirus
  • Enterovirus
  • Influenza A dan B
  • Parainfluenza
  • Coronavirus
  • Metapneumovirus manusia
  • Virus syncytial pernapasan

Sekitar 95% bronkitis akut pada orang dewasa sehat berasal dari virus. Namun, beberapa kasus bronkitis menunjukkan bahwa alergi, iritasi, dan bakteri juga bisa menjadi penyebabnya. Iritasi yang dimaksud biasanya terjadi karena menghirup asap, udara tercemar, debu, dan lainya.

Dikutip dari American Family Physician, hanya 1-10% kasus bronkitis akut disebabkan oleh bakteri. Meski langka, berikut adalah jenis-jenis bakteri yang menjadi penyebab penyakit bronkitis akut:

  • Mycoplasma pneumoniae
  • Chlamydophila pneumoniae
  • Bordetella pertussis  

Bronkitis akut merupakan penyakit menular. Itu sebabnya, setiap kali Anda mulai batuk, penting untuk menutup hidung dan mulut Anda dengan siku atau sapu tangan, alias menjalankan etika batuk.

Anda juga sebaiknya menghindari memegang wajah serta rajin cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer berbahan dasar alkohol. Hal ini lantaran virus dan bakteri penyebab bronkitis akut dapat menyebar melalui sentuhan (seperti jabat tangan) serta dengan mencemari udara yang dihirup orang lain.

Bronkitis kronis

gejala bronkitis kronis adalah

Kebalikan dari akut, bronkitis kronis merupakan peradangan yang berlangsung lebih dari 3 bulan dalam kurun waktu 2 tahun. Kondisi ini dapat berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Peradangan terus terjadi dan menyebabkan munculnya lendir, sel-sel yang meradang, dan saluran yang menyempit atau kaku.

Hal itu membuat Anda sulit bernapas. Bronkitis kronis sering dianggap menjadi bagian dari kondisi serius yang disebut penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). 

Ada banyak penyebab bronkitis kronis, tetapi penyebab paling utama adalah paparan asap rokok, baik merokok aktif atau pun pasif. Iritasi yang Anda hirup ke saluran pernapasan, seperti kabut asap, polusi industri, dan bahan kimia beracun juga dapat menyebabkan bronkitis kronis.

Apa saja faktor risiko penyebab bronkitis?

Faktor-faktor berikut ini dapat meningkatkan risiko Anda terkena bronkitis:

1. Merokok

dampak merokok pada sakit PPOK

Orang yang merokok atau tinggal berdekatan dengan perokok mempunyai risiko lebih tinggi untuk memiliki kena bronkitis akut ataupun kronis. Merokok memang jadi penyebab bronkitis yang paling sering. Namun, bronkitis juga bisa saja terjadi pada mereka yang tidak merokok

Dikutip dari US department of Health and Human Services, wanita yang merokok mungkin lebih berisiko terkena bronkitis daripada pria perokok. Mereka yang berusia lebih tua dan sering terkena asap rokok juga memiliki risiko tinggi terkena bronkitis.

Jurnal yang diterbitkan oleh Respiratory Medicine menyebutkan bahwa sebanyak 50% perokok menunjukkan gejala bronkitis kronis. Satu dari lima di antaranya terkena PPOK. Pada orang yang berhenti merokok, risiko penyebab bronkitis kronis dan PPOK dapat menurun dalam 10 tahun, hingga seperti orang yang tidak merokok.

2. Mengonsumsi alkohol

Selain merokok, faktor lain yang dapat menjadi penyebab bronkitis adalah mengonsumsi alkohol. Minum alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan risiko Anda terkena bronkitis dan merusak fungsi paru-paru secara umum.

Penyalahgunaan alkohol juga dapat meningkatkan risiko dua kali lipat Anda terkena bronkitis.

Menguak Segudang Efek Buruk Alkohol Pada Tubuh

3. Status sosial ekonomi yang rendah

Jurnal yang dipublikasikan US Department of Health and Human Services menyebutkan bronkitis dan batuk yang tak kunjung sembuh sangat berkaitan dengan merokok, konsumsi alkohol, dan status sosial ekonomi yang buruk.

Sementara itu, European Respiratory Journal juga pernah menerbitkan penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan terhadap risiko terkena bronkitis. Penelitian itu menyebutkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih rendah menciptakan peningkatan risiko terkena bronkitis kronis.

Efek kemiskinan yang memengaruhi status gizi juga terbukti meningkatkan risiko terhadap infeksi dan perkembangan penyakit paru-paru, termasuk, bronkitis, pada bayi dan anak-anak. 

4. Sistem kekebalan tubuh lemah

Sistem kekebalan tubuh yang lemah mungkin disebabkan oleh penyakit akut lainnya, seperti pilek atau kondisi kronis yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh Anda. Orang lanjut usia, bayi, dan anak kecil berisiko lebih tinggi untuk mengalami infeksi, termasuk bronkitis.

American Lung Association menyebut bahwa sistem kekebalan tubuh Anda dapat mengatasi infeksi yang menyebabkan bronkitis. Namun, sistem kekebalan tubuh yang lemah atau kondisi akut lainnya dapat menghambat proses alami tersebut.

5. Lingkungan dengan kualitas udara yang buruk

Dampak dari polusi udara pada kebahagiaan

Anda memiliki risiko yang lebih besar kena bronkitis jika bekerja pada lingkungan yang dapat mengiritasi paru-paru Anda, seperti pengolahan biji-bijian, tekstil, atau zat kimia lainnya.

Menghirup hidrogen sulfida dapat memengaruhi pernapasan bagian bawah dengan menimbulkan gejala berupa batuk, sesak napas, hingga perdarahan bronkial atau paru-paru. Pada konsentrasi yang lebih tinggi, bahan kimia tersebut dapat menyebabkan bronkitis dan penumpukan cairan di paru-paru.

Penelitian di Finlandia yang dijabarkan Respiratory Medicine menyebutkan bahwa bronkitis kronis tiga kali lebih banyak terjadi pada petani, meski mereka tidak terlalu ketergantungan terhadap merokok. Angka kejadian bronkitis kronis juga lebih tinggi pada orang-orang yang bekerja di peternakan hewan daripada di peternakan gandum.

6. Refluks asam lambung

Tak hanya masalah pernapasan, sakit perut akibat refluks asam lambung juga bisa mengiritasi tenggorokan dan membuat Anda lebih berisiko terserang bronkitis. Penyakit GERD juga bisa menjadi salah satu penyebab bronkitis akut ketika asam lambung masuk ke saluran pernapasan.

Segera konsultasikan diri Anda jika mengalami batuk yang tak kunjung membaik selama lebih dari dua minggu dan merasakan adanya cairan pahit di dalam mulut Anda. Gejala tersebut mungkin pertanda Anda mengalami GERD.

7. Tidak melakukan vaksin

Virus influenza merupakan penyebab utama bronkitis akut. Oleh karena itu, mendapatkan vaksin flu tahunan membantu Anda terhindar dari virus tersebut. Beberapa vaksin yang dapat melindungi Anda dari pneumonia mungkin juga membantu pencegahan bronkitis.

Vaksin flu dan vaksin pneumonia direkomendasikan terutama untuk orang dewasa berusia lebih dari 65 tahun, anak-anak berusia di bawah 2 tahun, wanita hamil, serta penghuni perawatan kesehatan jangka panjang.

Itulah tadi informasi dari daftar poker online mengenai Berbagai Penyebab Bronkitis yang Perlu Anda Waspadai oleh - jasalayanankesehatan.live dan sekianlah artikel dari kami jasalayanankesehatan.live, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Tags:

Berbagai Penyebab Bronkitis yang Perlu Anda Waspadai oleh - jasalayanankesehatan.live

By LayananKlinik24.online - Membahas Informasi Kesehatan →